Friday, December 6, 2019

Sepi

Aku mau berpegangan tangan saat hendak tidur
Berkontemplasi, meracau, tentang apa saja
Sampai malah menjadi sulit untuk terpejam

Aku ingin tidak sendirian

Aku ingin melakukan banyak hal
Aku ingin dibutuhkan, juga membutuhkan

:Hai,
mau menjadi temanku?

Saturday, November 16, 2019

Soe Hok Gie, Muhammad, dan Kamu

Kala itu berawal dari sentuhan manis di pipinya,
saat sedang membaca buku

Di depan aula, di sela-sela acara
Mungkin ia sadar, tapi
aku cepat bersembunyi ke kanan

Perjanjiannya pukul lima sore
Di tempat yang sama seperti kali pertama
"Saya baca blog kamu katanya udah suka kopi item."

Ia sudah menyeruput sekali, dua kali
Sesekali membuka lembar demi lembar,
novel yang sedang ia baca

Bahkan masih sempat menggerutu,
"Aku dibilang sok pinter karena membaca buku,
padahal ini kan novel."

Ia melihatku
Tutur lembutnya padaku,
terngingang sampai dua tahun kemudian,
hari ini.

Sampai ia bertanya,
"Siapa kiranya tiga orang yang ingin kamu ajak duduk dan minum kopi bersama?"
Aku tak punya persiapan, sedangkan ia
menjawab dengan begitu matang

Namun,
mungkin semesta telah berisyarat
Apa yang bukan milikmu sejak awal,
takkan pernah berada di genggaman

Apalagi,
saat kita bersembunyi,
dibalik sentuhan itu

:Yang bukan milikku


Tangerang,
11 November 2019

Thursday, November 14, 2019

Filosofi Bunga

Di dunia yang semrawut dan sungguh fana ini, bunga mengajarkanku banyak hal.

Saat aku datang ke pameran Pram satu tahun lalu, sempat diceritakan bahwa beliau membenci bunga semasa hidupnya. Namun, menjelang ajal, Pram tiba-tiba saja menyukai bunga. Entah mengapa, tetapi selain membunuh waktu dengan membakar sampah setiap sore di halaman rumahnya, Pram memilih untuk mengagumi bunga.

Aku selalu menyukai bunga. Bentuk asli, motif bahan, rasa teh, dan segala hal yang berhubungan dengan bunga, aku suka. Apakah karena ada kata Sekar yang disematkan dalam namaku? Aku tak begitu yakin walau nama merupakan doa. Menurutku, bunga bukan hanya tentang keindahan, tetapi lebih dari itu, bunga berfilosofi, tentang kehidupan, tentang menjadi manusia.

Manusia itu seperti bunga;


tumbuh, mekar, diterbangkan angin, menemukan tempat baru,
istirahat, lalu tumbuh lagi.


Begitu seterusnya.

Kita, manusia, tidak pernah berada di situasi yang sama. Perubahan adalah satu-satunya  yang pasti, yang lain adalah semu. Kita bermula dari garis awal yang berbeda, tentu saja, tetapi konteksnya sama. Manusia tumbuh, menemukan hal baru, mengeksplorasi, ingin tahu ini-itu, melebarkan sayap, dan memberi arti. Namun, badai merupakan kemungkinan yang besar untuk terjadi, menerjang kita kian kemari, barangkali hilang arah, dan berujung bingung.

Sampai akhirnya ada tempat baru yang menampung kegelisahan kita. Pengingat yang Ia datangkan, sengaja untuk kita, tentang tujuan, harapan, dan welas asih. Bahwa pelan-pelan itu tidak apa-apa. Kita tidak sedang diburu-buru, selalu masih ada waktu, meski rasanya kesempatan kedua mustahil, percayalah itu hanya ilusi. Proses memang sering terasa membosankan atau bahkan membuat kita ingin menyerah saja. Kadang kuncinya sederhana; menikmati setiap langkah yang kita pilih, baik mudah mau pun susah, dan berserah.

Tak ada hal yang lebih damai daripada percaya pada diri sendiri. Mengakui kelemahan yang kita miliki dan memanfaatkan kelebihan yang dianugerahi. Walau begitu, kita tidak pernah sendirian. Tengok ke kanan dan kiri, ada pula yang sedang berjuang untuk tumbuh, berusaha untuk mekar, dalam pencarian tempat berpijak, bernapas sejenak, kemudian mengulang siklus yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda.

Tidakkah kamu sadari bahwa kamu sedang berbunga saat ini? Atau bahkan membungai, hidupmu sendiri, yang lain, dan alam raya. Aku kali ini memilih untuk percaya bahwa kita, manusia,  merupakan satu entitas yang sama dengan semesta. Ia tak pernah mengkhianati kita, tetapi memberi, memberi, dan selalu memberi, dengan caranya sendiri, yang tak pernah kita sangka, murni dan suci.

Selamat berbunga, kawan! Tumbuh dan mekar, bersama atau mandiri. Siapa tahu, suatu hari nanti, kita melintas di kosmos yang sama, dan merupa taksu yang sejati.