Friday, November 18, 2016

Mata yang Memeluk
















Matamu merasuk tanpa mengetuk

Kamu melantunkan rasa segala
Sambil mencecap Timur yang memancar seketika

Ditemani puntung serupa merta jiwa
Aku tak seangin pun berpaling,
hanya tengadah melirik langit

Aku sibuk menanam, jangan kamu petik
Namun, kupersilakan kamu 'tuk beri pupuk
Sampai aku tak lagi kuncup
Merekah dan mewarnaimu

Selayang taman Firdaus
Sejuk membayang narasimu
Dalam sunyi yang aku kenang sendiri,
dengan nyanyian alamanda putih

Yang berdiam saat bulan menjelang:
Kamu tak perlu merajuk,
aku sudah terlanjur memeluk.

No comments:

Post a Comment