Showing posts with label Working Life. Show all posts
Showing posts with label Working Life. Show all posts

Monday, May 11, 2020

A Philosophical Cookie?

Hey y'all! Wassup?

Been a while since my last post and here I am. I don't know if I was in a stable condition or not, but today, I feel okay. How are you? How's the quarantine so far? As for me, I'm actually enjoying this new normal. Sleeping for 20 hours, baking a lot of cookies, and being lonely. Maybe our normal wasn't normal enough, I guess??? Probably after the pandemic is over, I'll miss my current routine, to stay home and alone, I cherish the moment when I don't have to meet people. Kinda love this introversion vibe.

So, yeah, I've sold cookies since early April this year. Nope, I didn't see it coming, never before. I quit my last job, I even only survived there for two months. It wasn't an emotional decision, I was very convinced. Though, I have to live. I want to eat great food and I got $ 200 expense per month for my medications. I can't be broke, whatsoever, so I try to be an entrepreneur. Well, a small business that is enough to fulfill my needs, just not my wants. Ugh, sometimes I want to try new skincare, buy some pints of gelatos, get a new pair of pajama, but nope, not now.

Turned out, it's not as bad as I thought it would be. My friends, my uncle, and some strangers are my customers, some of them even repeat order and it makes me the happiest person on earth. I love a loyal person! It will last for at least a day, yeah, at least I feel happy even just for a while. I wanna quoted my caption on one of my Instagram posts that you can check out here, about failing, about how desperate I was, about what I learned these past two months.


As an amateur baker, I worry about how my cookies will turn out, the look, the taste, the texture, everything, every damn time. Sometimes, I worry too much.⁣

I never change the recipe, I stick with the same old recipe, even when some people said that it’s too sweet for their liking, I don’t want to make any difference with the texture. I take my cookies seriously like it’s my baby. It is my own baby.⁣

Last week the drama was intense, I thought that was the worst scenario. Some of my cookies turned out flat, I changed my oven, I even tried to use another type of tools. In the end, I made it to the weekend, still, it was bad..., but guess, I was wrong. Today was a nightmare.⁣

In the morning, my cookies came out as chubby as my cheek. If I put ‘em in the oven a little bit longer, they went slightly burnt underneath. I’m totally clueless, also a little hopeless and helpless. Of course, I cried. Thank you Atid for recording the bad deed during my fasting today..., and maybe in this whole week.⁣

Yes, I’m tired, I rant. It’s very overwhelming and I feel like I got too much on my plate. Maybe the Almighty somewhere laughing, “Yo, you weak?” I wanna scream, “Of course, I am!!!”, while singing I Know Alone by HAIM,⁣
‘Cause nights turn into days
That turn to grey⁣
Keep turning over⁣
Some things never grow⁣
I know alone like no one else does⁣


I’ve done my research, on the internet, from my neighbor (who’s a baker), from my auntie, a thousand trials and errors. I tried to figure out, what’s wrong, what should I do, still..., I’m the dumbest of the dumber dumb.⁣

After a day full of storms and heavy rains, I made it through today. Well, it’s true that I need a little rainstorm (I said a little, God, please listen) to make a rainbow. I’m not that alone after all, I have Ebo and fully supported by my BEST friends.⁣

Thank you, Gendis, for hanging on, for another day, for another failure. You failed so many times, but you’re here now. I cherish the struggle and I hope you can always keep the spirit of trying and doing the best within you.⁣

I try to love me, each day, every day. I love me a little now, maybe a lot more tomorrow.


Damn it's hard to acknowledge my own feelings, moreover when it's full of insecurities and it seems like I doubt almost everything that had happened or will be happened. Have you ever felt that way too? Or am I the only weirdo here? And the depression and anxiety within me, damn man, they hit me hard, like SUPER HARD. It's like a total blankness, but you feel some kind of a weird sensation all over your body, especially when there's someone typing in a chat room and giving me a review about how was my cookies. Some like it, some others don't, but dang (again), I can't face it with calmness. I've talked about this to my therapist, that I can't even think when I relapse, how to clear your mind when everything is chaos? I totally don't get it, but I TRY TO, still, I haven't mastered it.

Anyways, even though I kinda love being a lone wolf, I really miss talking to someone, not a phone call or chat, but face to face. It might be real talk, or else, or maybe just talking shits, but you know, like what was your dream last night or have you tried to kiss a tree, or are you a runner or a slow walker. I don't know, I just miss having someone to talk to and I wanna see her/ him in the eyes, connecting and communicating. That's what. Yup, real human interaction. Actually, I hate to type a lot like this, I prefer to write it down on a letter and maybe send it to my Romeo (or not), but who cares about letter nowadays, anyway? No one.

Ok, enough ranting. Hope to catch up with you soon, whoever you are, whenever and wherever! Stay healthy and stay sane! Peace out.

Saturday, March 2, 2019

Secercah Kedoya: Sakit, tapi Gengsi

Hari Rabu lalu saya memutuskan pergi ke kantor tanpa tongkat, agak sombong awalnya, saya yakin bisa dan mampu. Semua berjalan seperti biasa, perjalanan Go-Jek, naik bus, jalan menuju kantor. Tentu masih pincang, kadang rasa sakit muncul tiba-tiba, ngilu di dalam yang rasanya seperti luka belum sembuh.

Sampai menuju malam, kaki saya cenat-cenut dan bengkak sekali. Apalagi setelah berdiri hampir sejam menunggu bus untuk pulang datang, terlebih di dalam bus pun harus berdiri. Semua orang lelah, semua orang ingin duduk. Lagi-lagi saya sombong dan yakin kalau saya bisa kok menumpu beban di kaki kanan saja.

Macet di jalan tol itu pasti, tapi dengan kondisi kaki yang seperti ini, ternyata rasanya jauh lebih sengsara. Dua tangan saya memegang tiang bus erat-erat, sedikit bergetar karena saya nggak tahan, tapi gengsi untuk minta tempat duduk.

Hari Kamis pun saya putuskan untuk kembali menggunakan tongkat. Di bus pun saya diberikan duduk, tapi ada dua bola mata yang sedari tadi menatap tajam, dari seorang perempuan. Saya ingat bahwa kami dalam bus yang sama kemarin malam. Asumsi saya, dia kilas balik ke kemarin malam bahwa saya mampu berdiri dan hari ini saya tiba dengan menggunakan tongkat.

Saya nggak tahu kenapa, tapi pikiran-pikiran buruk langsung menyergap karena tatapan itu tak henti. Seakan menghakimi, itu yang saya rasa. Padahal dengan mengutarakan hal ini, saya pun balik menghakimi perempuan itu, kan? Ah, hal-hal seperti ini, kecil, tapi mengusik.

Saya hanya ingin cepat berlari lagi, melangkah lebih percaya diri lagi. Namun, pelajaran kali ini terasa lama sekali. Menjadi pelan, santai, tidak tergesa-gesa, berapa SKS yang harus saya jalani? Saya adalah pelajar selamanya.

Namun, saya jadi berpikir berulang-ulang setelah pengalaman di atas, kiranya seperti ini:

Tiba-tiba saja, tanpa aba-aba.

Kalau kata Om Candra Darusman *akrab*, “Segala peristiwa yang pernah ada dalam kehidupan merupakan kehendak Tuhan yang Mahamulia. Betapa kuasa Dia dalam menentukan jalan nasib kita yang senantiasa di tangan-Nya.”

Oh, dan Sarah Anne Shockley menuliskan rasa sakit dengan begitu indah. Katanya, sakit adalah bentuk komunikasi alami dari tubuh yaitu aku berbicara dengan diriku sendiri. Ada bagian dariku yang sakit dan meminta perhatianku.

“Pain, then, has become something of a spiritual mentor over time. It has, in the end, taught me how to live more deeply, more authentically, and more wisely. Living with pain has not only helped me understand what really matters most to me in life, but how much I matter to myself.”

Aku rasa, sakit kali ini mengajarkanku bahwa pelan-pelan itu enggak apa-apa, demi hati yang lebih membumi.

Friday, March 1, 2019

Secercah Kedoya: Baca Buku, Masih Zaman?

Hari itu, 27 Februari, saya datang agak pagi, duduk di meja seorang teman yang sedang cuti, dan membaca sebuah buku yang sudah lama dibeli, tetapi belum sempat dibaca. Jihadis Jengkol dan Catatan Lainnya, judulnya, ditulis oleh Arlian Buana.

Sambil bekerja, sesekali saya buka lagi bukunya, minum, dan melakukan hal-hal yang seperti biasanya. Sampai akhirnya seorang kolega datang, melihat saya membaca dan menyeletuk, “Baca beneran atau buat gaya doang, nih? Halah!”

Wow, kaget. Selain kaget beneran karena kehadirannya, kaget juga karena apakah dia sungguh-sungguh bertanya kayak gitu? Akhirnya saya balas, “Haaah?” dengan wajah super cengo.

“Kayaknya sekarang udah nggak ada deh orang yang baca buku, paling buat difoto bareng kopi, lifestyle.” Kali ini kubalas senyum dan, “Tapi itu bukan aku.” Walau saya juga suka foto buku yang dibaca untuk direkomendasikan ke orang lain.

Kemungkinan besar dia memang baru melihat saya membaca buku pada hari itu karena saya duduk di sebelah mejanya. Padahal, ya dari awal masuk, teman setia saya hanya buku. Maklum, membuat percakapan dan memulai pertemenan baru bukan keahlian saya.

Saya heran saja, ternyata masih ada orang yang berpikirian seperti itu. Sungguh, kalau saya ingin bergaya, saya ke kantor pakai kaca mata hitam, bukan membaca buku.

Tidak lama setelah percakapan itu, ia kembali menghampiri, “Kamu suka nggak sih kalau beli baju yang kayak gini?”, seraya memperlihatkan akun toko daring di Instagram, tipikal baju impor Thailand atau Hongkong gitu.

“Oh, enggak, kalaupun suka, pasti nggak ada yang cukup, pasti all size, sedangkan ukuran bajuku L.” Dan jawabannya pasti sudah bisa kalian semua tebak, “Hah? Ukuran baju kamu L? Kurus banget!!!”, diikuti suara tawa yang terngiang-ngiang.

Wednesday, February 27, 2019

Secercah Kedoya: (Bukan) Bercanda, Neng!

Hari itu tanggal 26 Februari 2019, hari Selasa. Naik Grab-Bike karena punya saldo OVO dan demi promo, tapi saya setia sama Go-Jek sebenarnya, dan mendapat driver dengan inisial R. Dari awal saya naik ke motornya, ia bilang, “Kita lewat sana aja ya, biar muter dulu, lebih lama deh kita di jalan.”

Dalam hati, “ASDFGHJKL!!!!”, yang terlontar, “Ya kali, Pak!” dan dibalas lagi, “Gapapa dong, kan enak kalau lama-lama.” Oh, rasanya saya ingin berkata kasar. Belum lagi ia memundurkan posisi duduknya sehingga lebih mepet dengan badan saya. Untung cepat sadar, saya langsung kasih batas dengan tas dan mendorong sedikit.

Dalam perjalanan yang sangat sebentar itu (terima kasih Tuhan, kantor saya dekat), ia bercerita tentang pekerjaannya yang termakan janji palsu poin-poin dari perusahaan, serta penumpang yang sering memberikan komentar setelah perjalanan selesai. Untuk masalah komentar, no wonder, saya rasanya juga ingin begitu, tapi saya tahan saja atas nama empati, saya masih manusia.

Ketahuilah bahwa kaki saya masih belum bisa berjalan normal sehingga saat saya turun dari motor, saya berjalan dengan pincang, terlebih hari itu saya memilih meninggalkan tongkat di rumah. Keluarlah kata-kata yang sepertinya menggambarkan sang driver dengan lebih baik lagi, “Oalah, pincang!” Nada bicaranya, sungguh, bikin saya jengkel ingin jitak, tapi yang kencang gitu.

Mengapa ya, ada saja orang-orang seperti ini? Mungkin ada yang bilang biasa saja atau, “Ah, itu kan bercanda!” Menurut saya, bercanda yang seperti itu sudah ketinggalan zaman.

Sunday, November 11, 2018

Secercah Kedoya: Liputan Pertama

Halo! Been thinking about writing this experience on the blog or not, tapi sekarang saya yakin kalau ini harus diabadikan, demi diri saya sendiri, untuk kenang-kenangan di masa mendatang.


Euphoria at the Electric Jakarta Marathon 2018

Bagaimana fotonya? Cukup bagus, ya? Hahaha, gapapa dong sesekali memuji diri sendiri, saya senang melihat diri ini bisa berjuang melawan sisi-sisi jahat yang kadang suka muncul dan menghambat keinginan untuk maju.

Hari itu, Jumat terakhir di bulan sepuluh, supervisor saya mengabarkan kalau di hari Minggu saya akan turun lapangan untuk liputan pertama. Senang, tapi deg-deg serrr juga, sih. Ini sudah saya tunggu-tunggu sejak awal, tapi liputan foto? Saya nggak pernah bagus dalam fotografi dan videografi, sesederhana karena saya tremor HAHA. Apa-apa yang diambil pasti goyang dan hasilnya blur, kecuali dengan stabilizer atau auto mode tentunya.


"Hah, liputan, Kak? Kita? Berdua?"

Luckily, saya ditemani sama anak magang, Icha. Teman jajan selama di kantor, yang selalu bikin ketawa, dan bikin mupeng kalo lihat doi lagi makan (and I'll definitely miss her when she's not here anymore). Tentu saja, saya juga dapat pengarahan fotografi singkat dari Adit, teman semester satu saya di kampus (yang sampai sekarang masih harus berjuang, kelarin cepet, Dit!), juga orang yang sebenarnya enggak jelas, tapi baik banget deh hatinya. Mas Ibnu, Account Executive (AE) yang mengurus work order untuk Electric Jakarta Marathon 2018, acara yang diliput, pun sangat kooperatif dan membimbing saya yang kadang-kadang suka error ini hehehe.


"Pokoknya lu pake auto atau sport mode terus ya, Ndis"

Until the day came, saya harus bangun pukul 01.00. Ya, sedini itu, karena untuk pergi keluar saya butuh waktu setidaknya 1-2 jam persiapan, juga harus sampai di venue pukul 03.00. Oh well, demi itu pun saya makan Indomie goreng + telur ceplok + nasi HAHA enggak ada makanan lagi di rumah, tapi atas nama stamina saya lakukan karena pas liputan pasti enggak akan sempat makan atau mikirin perut.

Akhirnya ketemuan sama Icha di McDonald's Jalan Panjang dan langsung meluncur ke Gelora Bung Karno (GBK) diantar oleh pacarnya (thank you, Dimas!). Pikiran saat itu, "Gila! Pagi-pagi buta gini rasanya kayak kilas balik ke waktu syuting Enjoy Your Weekend ke Ancol pas di UMN TV dulu." Beneran deh, bikin ketawa dan kangen banget sama UMN TV. Gimana enggak? Hampir 3/4 kehidupan kampus saya habiskan bareng komunitas media kampus itu, tumbuh-kembang saya sebagai individu sedikit-banyak karena UMN TV juga.


Sebuah potret bahagia dari keluarga kecil
yang mengikuti kategori 5K

Pas awal datang, kami masih nempelin Mas Reno, salah satu Production Assistant (PA) di bagian TV, sedangkan kami kan tim media sosial di bagian media daring. Orangnya baik banget sih, walaupun enggak banyak bicara, sungguh membantu kami saat di lapangan. Lalu, ketemu juga sama Mas Arif, salah satu pengurus media di acara yang sedang kami liput. Mas Arif cekatan juga kalau ditanya ini-itu, bikin senang karena kami jadi enggak clueless.


One of the potential winners for the Full Marathon

Kurang-lebih kami berada di GBK selama 8 jam, kami sudah bisa pulang pukul 11.00-an karena fotonya sudah dapat semua dan yang penting kliennya senang sama hasilnya. It was a very memorable moment for me and I'm craving for more. Dari liputan itu saya belajar, jangan malu-malu untuk sok kenal sok deket alias SKSD ke orang daripada nyesel belakangan.

Oh, saingan pas liputan untuk manusia mini seperti saya ternyata bukan sesama manusia, tapi tripod pemirsa. Ya, benda mati itu :) Saya bangga sih karena saya berani manjat pagar besi demi mendapat foto yang bagus atau loncat-loncat sampai ada seorang wartawan laki-laki yang bilang, "Ini pake spot saya aja di depan sini, biar enggak usah loncat segala." I'm forever thankful for you, duhai Mas yang tidak diketahui namanya hahaha.


With the one and only, Icha <3

Bonus selfie berdua sama Icha yang sudah back-up foto pakai iPhone dengan sangat baik. Oh, she was also very patient with my temper selama liputan berlangsung. She's truly an angel, deh. I'm so proud of her.

Enough for now, will be back blogging later!

Thursday, October 25, 2018

Secercah Kedoya: Tentang Sekitar

Apa saja yang terjadi di sekitarmu, Gendis?

Banyak sekali dan aku menuliskannya di kepalaku. Sekarang aku ingin bagikan, sebagian kecil dari hal-hal yang aku suka dan terjadi di minggu terakhir bulan sepuluh ini.

Doa Supir Transjakarta
__ 
Memasuki gerbang tol pertama, selagi menempelkan e-money, ia tadahkan tangannya, khidmat. Melihatnya sambil berkata 'aamiin' dalam hati, tenang. Sang bapak bernama Muhamad Yufril A.

Perihal Gendis
__
Barangkali Pak Sapardi pernah memperhatikanku dari jauh, jauh sekali di semesta yang lain. Percayalah tidak pernah ada yang kebetulan, tetapi apa artinya sebuah kitab puisi bisa begitu apik dalam mengisahkan hidupku?

Anak Magang
__
Icha dan Adit, yang membantuku bertahan, pun sudah terlintas sejak dini, apa jadinya aku saat mereka sudah selesai di sini? Afif dan Azmy, yang tulus mendengarkan keluh kesah tak berkesudahan, akankah selalu ada sampai kapan-kapan?

Pelukan Ibu
__
Kejujuran mengantarkanku pada pelukan Ibu (yang selalu aku idam-idamkan). Berapa waktu yang aku butuhkan untuk mengutarakan, berkutat dengan pikiran yang tak ada habis-habisnya, ternyata hanya pelukan Ibu yang meredakan. 'Maafkan Ibu', katanya.

Wallpaper HP Supir Go-Jek
__
Hangat melihat foto seorang anak perempuan dengan kerudung pink. Apa yang ia perjuangkan di jalan, pasti untuk buah hati kesayangan. Apa yang lebih menenangkan dari kasih seorang ayah untuk anak perempuannya?

Rabu tanpa Tangis
__
Bukan mitos kalau tahun ini aku selalu menyisakan sedikit waktu untuk air mataku mengalir, setiap harinya, tanpa tanda-tanda, begitu saja. Namun, begitu bahagianya kemarin sampai aku takjub, buliran air asin itu tidak jatuh. Seterusnya, mungkinkah?

Membaca dan Menulis
__
Dan tentu saja, aku kembali membaca dan menulis, tentang apa saja. Akhirnya, penantian atas pulangnya jiwaku yang berkelana kepada akarnya tiba juga. Aksara adalah batin.

Lalu, apa yang terjadi di sekitarmu?

Tuesday, September 18, 2018

Secercah Kedoya: First Day

Tabik!

Hari ini adalah hari kedua saya bekerja. Tepatnya, bekerja di sebuah media daring dari saluran televisi yang berkantor di daerah Kedoya. Entah beruntung atau tidak, saya datang (sangat) kepagian hari ini, sudah menginjakkan kaki dengan santai pada pukul 08.00, sedangkan waktu mulai kerja masih pada pukul 09.00. Pintu ruangan kerja saya pun masih terkunci, malang saya menunggu di lobby sendiri. Namun, selalu ada sisi baiknya, saya jadi bisa menulis post untuk blog yang lama tak tersentuh tulisan panjang.

Kemarin, saat hari pertama, saya merasa campur aduk. Senang, karena jeda waktu antara kelulusan dan bekerja sungguh sebentar, heran sama diri sendiri ternyata bisa meraih hal ini. Sedih, karena saya benar-benar meninggalkan kehidupan saya sebagai mahasiswa, titel yang paling saya suka sejauh ini. Bingung, karena saya sudah harus bayar pajak selayaknya orang dewasa lain, ini begitu cepat. Dan hal lain yang datang tiba-tiba akibat merenung di perjalanan, makan siang yang terasa sepi, dan kaki yang ceroboh sehingga terantuk batu besar depan kantor.

Ternyata, kurang lebih apa yang saya kerjakan saat bergabung dengan UMN TV, media kampus yang saya ikuti dulu, merupakan gambaran yang apik terhadap pekerjaan saya sekarang. Untuk jabatan memang seperti pekerjaan lepas atau saat magang dulu yaitu social media officer di Creative and Social Media Department, tetapi di sini alur dan cara kerjanya cukup berbeda. Bedanya, kemampuan menulis memang dibutuhkan, tapi alangkah lebih baik kalau saya punya kemampuan menyunting gambar atau foto. Untuk video, saya memang ada basic, meskipun ya nggak jago-jago amat. Mungkin saya saja yang belum terbiasa, semoga saja saya bisa catching up secepatnya.

Makan siang saya hampir sendirian kemarin, sampai sekitar pukul 14.00 itu belum ada teman sedepartemen yang istirahat atau makan. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi sendiri, saya lapar banget, tapi masih gengsi dan malu untuk mengajak yang lain. Beruntungnya ada rekan satu departemen yang juga ingin makan, jadi nggak harus sendirian. Selain itu, ia juga berbaik hati meminjamkan kupon makannya karena punya saya belum diisi oleh HRD. Well, perut aman dan berhenti bergoyang deh.

Di hari pertama, pekerjaan saya belum berat, masih copywriting spontan untuk kultweet dari video-video program televisi tentang finansial. Sesungguhnya, saya kaget dan masih bingung karena biasanya saya selalu ada guidelines dalam social media handling, seperti KPI (key performance indicator) yang ingin dicapai, content pillar, dan segala do's and dont's-nya. Kalau sekarang, karena hal tersebut belum disampaikan kepada saya, saya hanya bisa mempelajari pola yang sudah dilakukan oleh teman-teman sedepartemen, bagaimana gaya bahasa yang digunakan, pemilihan kata, dan sebagainya.

Oh! Dan satu hal lagi yang membuat pengalaman kerja ini lebih menyenangkan, saya sudah bisa naik bus, sendirian! Ternyata bergelantungan di bus lebih menantang dibandingkan di kereta. Saya harus cekatan dengan sopir yang suka ngerem mendadak, kaki harus kuat, pegangan tangan pun harus erat. Sejauh ini masih menyenangkan, semoga masih sampai nanti.

Cukup untuk hari ini, sampai jumpa nanti!