Showing posts with label Friends. Show all posts
Showing posts with label Friends. Show all posts

Tuesday, November 12, 2019

Strolling Around Blok M

Heya heya!



So, last Saturday, I went for a date with my gurls, Farhah and Icha, to Jakarta. Basically, Icha wanted to try the double-decker tourism bus and Farhah wanted to try MRT. We went to the Museum Nasional bus stop and got a ride there to Juanda, then Bundaran Senayan. Afterward, we took MRT and got off at Blok M station.



Trying to be a hipster, we paid a visit to M Bloc Space. Before, it was a post-colonial style, two-stories PERURI's housing, left neglected for quite a long time. It was also a warehouse and a printing factory. Now, it becomes the center of pop-cultural activity in Jakarta. Yeah, the purpose is to bring back the golden era of Blok M as a young community ecosystem.



The execution is, of course, AMAZING! PT Ruang Riang Milenial, led by Handoko Hendroyono, along with his six best companies; Lance Mengong, Glenn Fredly, Wendi Putrantro, Jacob Gatot Sura, and Mario Sugianto, are the men behind M Bloc Space. Mas Handoko was also the man behind Kebun Ide and Filosofi Kopi. He's definitely an EXPERT in creative branding, have you checked his books? His track record is no doubt. Oh, I can't imagine what's on his mind, truly mind-blowing!




Well, we ate at Mbok Ndoro, one of the restaurants there. A Javanese restaurant, a very humble place, and tasted like home. I ordered nasi merah, sambel tumpang, krecek, oseng mercon, telur dadar, and es gula asem for the drink. Oh, also es grim jowo a.k.a klepon flavored ice cream, I loved it! Foods are heavenly delicious, pricey but worth every penny, it really suits my Javanese palate, a bit spicy with a touch of sweetness in every dish. Overall, satisfying meals.



There are so many interesting places to explore in M Bloc Space, from cafes, local brand shop, gelato, to gigs place. In the back of it, there are some murals for you, photo-hunter, and a little space of garden too. I found eggplant, chili, and hydroponic greens. In the middle of our stroll, we met Snowy! A very lovely dog, fluffy and soft, he likes to smile and very friendly even to strangers. I have a dream when I financially stable, I really want to have a dog, like Snowy! Oh, I can still feel his fur, I can even cuddle with him every second.



Then we walked to the Blok M Square area to get some caffeine intake at Filosofi Kopi, chit-chatting about everything 'cuz we haven't met for months and there were so many things to catch up with. I managed to get myself a namareka pudding from La Mouette. If you haven't tried one, go try it! Heavenly delicious, best purin (Japanese caramel custard pudding) in Jakarta ever!



Almost sunset, golden hour time! We hunted the best spot at Taman Martha Tiahahu and took hundreds of photos lol especially Icha 'cuz when it comes to posing, she's a natural. And it wasn't over yet, at the MRT Station, the photoshoot still continued.



My legs were actually hurt like hell and I couldn't even feel it anymore, but the show must go on. We went to Senayan City to get dinner and rest our feet a little. From 8 am to 8 pm, we walked 14 km and just burned about 400 calories, just one and a half of a piece of martabak HAHA but okay, at least we're having so much fun.



I hope we can still do quality time together 'cuz it will always be a memorable moment to spend time with them. My MVP from college until now. Thank you Icha and Farhah, love you everyday!

Sunday, September 1, 2019

Life's a Water with Colors

Have I told you that I used to paint with watercolor when I was a kid?

The lovely Farhah

Thank God for Farhah, a very lovely companion of mine from college, we met on August 31st for a watercolor session. She's always been sweet, the type of friend who will give you endless support, no matter if there'll be a tornado hitting you, she'll be there beside you. We started with lunch at my favorite restaurant, Bumbu Pekalongan (their Megono Pincuk and Cumi Item are to die for!), then we headed to the newly opened Starbucks near our campus.

Candid by Farhah

I got frantic at first! I even forgot how to use a paintbrush properly, oh, I actually broke mine (oops). Well, again, Farhah saved me with her paintbrush set. We looked for inspirations on the internet because our surroundings were not supported much (still got a lot of mess everywhere, really a brand new building). Farhah committed to paint a landscape with lake, while I wanted to paint a floral pattern (like always).

But first, selfie!

I felt so good to play with colors, choosing the right one to match with each other, creating shapes, contemplating what we paint, it was therapeutic. Oh, pro tip, wet on wet is an ideal way to paint for a sloppy person like me! I love how easy it is, but it will turn out beautiful! I feel like a pro already when I do it, I'm sure you'll too.

Me and my artwork

Farhah have reminded me to always use watercolor paper to paint with watercolor (like, duh?), but in case you don't know it, right? Unless you want the result to be crumbly, then go on, just use regular paper. There are lots of tutorials on the internet (Thanks to YouTube!) for a watercolor beginner, it will help you a lot when you wanna start to paint. Just like what Ditut and Pinot always said, it's not about the tools and everything fancy, but the willingness to learn, that's what.

Flowers here and there

So, have you painted your life?

Thursday, November 8, 2018

Aku Ada

Kemarin tiba-tiba aku menerima chat kalau akan dijemput dan ditraktir makan malam. Entah mengapa, cara Tuhan itu selalu tidak terpikirkan dan ada-ada saja. Aku merasa ada. Walaupun aku nggak bisa jujur ke banyak orang dan cenderung memendam perasaan, tapi sedikit tertawa dengan teman-teman nggak ada salahnya, kan?


Fish Streat, 7 November 2018

Aku bertemu Alca, Devin, dan Gaby untuk mensyukuri ketiganya yang masih diberi udara 'tuk dihirup sampai usia saat ini. Di minggu sebelumnya aku makan bakmi sama Angel, lalu main ke pasar dan nonton sama Icha. Oh, dan papasan dengan Raisa saat naik Go-Jek dan di salah satu pusat perbelanjaan. Sebelumnya lagi aku jalan-jalan ke empat museum di Kota Tua sambil minum jamu sama Farhah. Tepat seminggu sebelum bertemu Farhah, aku kencan di perpustakaan dan Pasar Santa sama Rana sampai bukan hanya perut yang penuh, tapi jiwaku juga. Oh, dan sebotol madu dari Kak Melanie kesayangan dan obrolan sedalam lautan dengan yang sedang jatuh sepertiku (tapi akan segera bangkit secepatnya), Kak Nissy seorang.

Namun, minggu ini aku rehat karena kondisi tubuh yang nggak sehat, tapi aku antusias, siapa lagi minggu depan? Ke mana? Ada cerita apa?

Aku nggak melulu sekubu dengan teman-temanku, tapi selalu ada percikan hangat di tengah dinginnya hidupku bila sedang bersama mereka. Setidaknya, saat aku sedang menjadi aku yang terburuk sekalipun, teman-temanku tetap ada. Mungkin aku masih memikirkan mereka-mereka yang terkesan meninggalkan, tapi aku coba menikmati yang ada sekarang. Bukan hanya mereka bertiga dalam foto, tapi untuk semuanya, yang setia bertahan walau saat berjumpa kita sudah tak sempat mengabadikan momen dalam sebuah foto.

Terima kasih ya, aku bahagia punya kalian, aku ingin fokus pada hal-hal yang aku punya, seperti kalian, dan aku akan terus belajar untuk bersyukur sepenuhnya.

Monday, July 16, 2018

A-Z Skripsi

Selamat masih bertahan hidup sampai hari ini!

Nilai A pada mata kuliah Statistika bukanlah kemampuan, tetapi kebetulan. Sejak kecil, saya memang tidak pernah bersahabat dengan angka. Melihatnya saja membuat kepala saya pusing tujuh keliling, bahkan 1+1 sekalipun. Maka dari itu, penelitian kuantitatif tidak pernah terpikirkan dalam benak saya. Kualitatif akan selalu menjadi pilihan, bagaimana pun caranya, pikir saya pada waktu lalu.

Namun, manusia memang hanya bisa berencana, Tuhan yang akan selalu berkehendak. Dua bulan saya kekeh untuk mengambil metode kualitatif, pokoknya ingin sekali. Pengajuan ke perusahaan sana-sini, cari kenalan yang kiranya bisa bantu, debat sama dosen pembimbing. Nihil. Akhirnya saya sampai pada keputusan, mungkin memang bukan jalannya untuk bertemu orang baru, pergi wawancara ke sana ke mari.

Metode kuantitatif tidak pernah ada dalam bayangan saya sehingga saat saya mengambil keputusan tersebut, saya hampir putus asa karena di awal saya dengan bodohnya meyakini diri bahwa saya nggak akan bisa. "Apapun yang berhubungan dengan angka kan selalu berujung nestapa, otak bisa korsleting nih!", pikir saya waktu itu. Dengan kekuatan entah dari mana dan segenap hati yang berusaha teguh, akhirnya saya ajukan latar belakang masalah penelitian saya kepada dosen pembimbing.

Selama proses pengerjaan skripsi, hal-hal tidak berjalan mudah. Mungkin, ada saja orang yang bilang topik yang saya ambil itu gampang, enak ya kalau anak PR bisa mengambil topik yang nggak rumit, kayak gitu saja masa sudah pusing, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. People will always judge, anyways. I just wanna let myself knew at that time that everyone has their own limit and we truly don't know what it feels like to be anyone else. Belum lagi sahabat-sahabat saya sejak SMP sudah ada yang wisuda dan sidang duluan, but then again, everyone has their own right time.

Penyebaran kuesioner sebagai teknik pengumpulan data menjadi salah satu rintangan yang agaknya bikin panik. Sampel saya adalah pengikut akun Instagram suatu merek kosmetik lokal sehingga cara saya melakukan pendekatan yaitu melalui Direct Message (DM). Seen, but not replied. Dibalas akan bantu, tapi tidak ada hasil form submission yang saya terima. Atau sesederhana, tidak dibalas sama sekali. Belum lagi limit DM yang bisa dikirimkan per harinya dari Instagram karena terlalu banyak mengirim pesan kepada orang asing. Beruntungnya saya dibantu oleh semua teman-teman hebat untuk menyebarkannya di Instagram, they helped me a lot.

Terlebih saat saya memulai bab hasil penelitian dan pembahasan, saya butuh mengolah data saya dengan aplikasi SPSS dan menginterpretasikannya. Memang mudah ternyata mengoperasikan aplikasi tersebut, tapi tetap saja saya nggak akan bisa mengerjakannya tanpa bantuan (yang banyak) dari Okky dan Gaby. Kedua perempuan yang mengajarkan saya seperti seorang ibu, sabar dan ikhlas menghadapi seorang saya yang nggak mudeng-mudeng dan nanya terus. Kami punya pojok rahasia di suatu pusat perbelanjaan. Sepi, ada WiFi, ada stopkontak, lagu yang diputar enak didengar (banyak lagu jadul), pokoknya tempatnya tepat.


Kiri-kanan: Okky, Gaby.

Teruntuk Okky, terima kasih sudah berprasangka baik saat pertama kali melihat namaku untuk menjadi teman seperbimbinganmu. Walau ternyata aku tidak seperti yang kau bayangkan selama ini, aku bersyukur kamu selalu menerima dan menjadi teman yang sangat baik selama proses pengerjaan skripsiku. Siapa yang sangka, teman sekelompok ke CNN beberapa semester lalu dipertemukan kembali dengan situasi yang lebih baik. Maaf aku sering kali gila karena terlalu banyak makan gula, sering tertawa karena sedih, pernah menangis karena lupa tertawa, ah sudahlah. Aku sayang.

Teruntuk Gaby, terima kasih sudah membantu teman lintas jurusanmu yang bandel ini. Entah harus berlega hati seperti apa lagi karena bisa dibantu dan ditemani Gaby tanpa jenuh sedikit pun. Gaby yang selalu menjawab pertanyaanku yang kadang berulang dan tidak penting, aku harap kamu selalu jadi pribadi yang punya energi moncer abadi dan memaafkanku. Otakku memang sering sekali miring karena melihat angka-angka yang begitu banyak di layar laptop saat bersamamu, tapi memilih bertahan denganku adalah pencapaianmu yang begitu tulus. Aku kasih.

Dan ternyata mengumpulkan berkas skripsi seperti buang angin, melegakan sekaligus mengkhawatirkan. Melegakan karena beban berkurang, mengkhawatirkan karena menunggu sidang datang. Saya senang karena bisa mengumpulkan tepat waktu walaupun  memeleset dari target saya di awal penelitian. Hadiah kecil saya berikan untuk diri saya sendiri, dua cone es krim dan semangkuk udon. Oh, dan sa su nonton Kulari ke Pantai sampai tiga kali e! No pura-pura, the movie is so bagus! Hahaha!

Skripsi merupakan titik balik yang mencengangkan. Proses untuk refleksi diri, bertemu banyak hal yang tidak diketahui sebelumnya, penyembuhan untuk hati yang kadang belum sepenuh dirinya sendiri, juga segala bentuk kontemplasi.

Sedikit penggalan dari kata pengantar dalam skripsi saya,

"Manusia mempunyai kekuatan penuh atas diri sendiri untuk menarik segala hal yang ingin direalisasikan, maka jangan jadikan batas sebagai hambatan. Mengakui kekurangan, memanfaatkan kelebihan, dan mau belajar untuk menjadi lebih baik lagi merupakan cara sederhana yang dapat ditempuh. Selama proses penyusunan skripsi, peneliti belajar untuk menuntaskan apa yang dikerjakan dengan niat dan selalu menggunakan hati."

Doakan sidang saya lancar, ya! :)