Sunday, September 1, 2019

Life's a Water with Colors

Have I told you that I used to paint with watercolor when I was a kid?

The lovely Farhah

Thank God for Farhah, a very lovely companion of mine from college, we met on August 31st for a watercolor session. She's always been sweet, the type of friend who will give you endless support, no matter if there'll be a tornado hitting you, she'll be there beside you. We started with lunch at my favorite restaurant, Bumbu Pekalongan (their Megono Pincuk and Cumi Item are to die for!), then we headed to the newly opened Starbucks near our campus.

Candid by Farhah

I got frantic at first! I even forgot how to use a paintbrush properly, oh, I actually broke mine (oops). Well, again, Farhah saved me with her paintbrush set. We looked for inspirations on the internet because our surroundings were not supported much (still got a lot of mess everywhere, really a brand new building). Farhah committed to paint a landscape with lake, while I wanted to paint a floral pattern (like always).

But first, selfie!

I felt so good to play with colors, choosing the right one to match with each other, creating shapes, contemplating what we paint, it was therapeutic. Oh, pro tip, wet on wet is an ideal way to paint for a sloppy person like me! I love how easy it is, but it will turn out beautiful! I feel like a pro already when I do it, I'm sure you'll too.

Me and my artwork

Farhah have reminded me to always use watercolor paper to paint with watercolor (like, duh?), but in case you don't know it, right? Unless you want the result to be crumbly, then go on, just use regular paper. There are lots of tutorials on the internet (Thanks to YouTube!) for a watercolor beginner, it will help you a lot when you wanna start to paint. Just like what Ditut and Pinot always said, it's not about the tools and everything fancy, but the willingness to learn, that's what.

Flowers here and there

So, have you painted your life?

Monday, August 5, 2019

Runutan

Aku tak mengerti, apakah semua orang perlahan sadar bersama-sama, atau memang lingkaranku saja?

Ember penuh cucian yang belum tersentuh itu menimbulkan bau apak, kira-kira sudah empat hari dibiarkan begitu saja. Si empunya saat ini sedang duduk di lantai putih dengan corak hitam yang ternyata adalah debu yang menumpuk. Ia bersandar pada tembok polos, tapi pahit, sebagai saksi apa-apa yang terjadi dalam bangunan yang ia tinggali, bukan rumah.

Melirik ke sebelah kanan, di sanalah cucian itu berada. Berjalan sedikit melewati pintu di sebelah kiri, ada ruang tengah berisikan meja makan dengan dua kursi, juga televisi tua yang sudah tak berfungsi. Berbeda dengan keadaan di belakang, di dalam justru bersih, hanya segelintir debu. Setiap ruangan; mulai dari kamar tidur, kamar mandi, sampai gudang, semua terisi perabot secukupnya dan rapi. Oh, tapi masih saja terasa kosong.

"Nang ning nung, ning nung ning nang ning nung.."

Nyanyikanlah jiwamu sekeras-kerasnya, senantiasa tak akan ada yang bisa mendengar, kecuali dirimu sendiri, sebaik-baiknya penolong.

Pikirannya mengembara ke entah berantah, mungkin kolam renang berubin biru yang memanggilnya 21 tahun lalu, atau ruang tamu yang memercik penyesalan setahun setelah kelahirannya. Ia beranjak dari duduknya, menghampiri cucian dalam ember yang berwarna hijau pudar itu, dan memencet hidungnya seraya bernapas melalui mulut.

Ada dua kutang dan tujuh celana dalam, selama empat hari ia tidak berganti baju, hanya pakaian dalamnya saja. Ia baru sadar kalau masih mengenakan daster batik kuning yang sudah bolong di bagian paha kanan sejak hari Kamis lalu. Dibukalah daster itu pelan-pelan dari tubuhnya dan memasukkannya ke dalam ember yang sama.

"Asin, asin, aku maunya wangi!"

Berapa pun sabun pencuci pakaian yang ia tuang ke dalam ember, tiada wangi yang tercium meski dalam jarak satu senti. Ia tuang terus sampai hampir habis, pula bulir-bulir air yang berasal dari mata sayunya turun deras menghujani siapa pun, apa pun, yang berada di bawahnya, termasuk cucian yang apak itu.

Tiga semut yang berjalan beriring menuju markasnya lari terbirit-birit, tak mau tertular, cadangan air mata semur-semut itu sudah habis. Kemarin, mereka baru kehilangan serpihan roti yang sudah dijaga betul-betul. Ah, yang tiba-tiba, kadang menyenangkan, kadang menyesakkan.

Dari sekian banyak cerita di hidupmu, benarkah tidak ada yang benar-benar selesai?

Sunday, June 23, 2019

Ada Apa #17 | Menggambar

Menggambar adalah kegiatan yang paling saya suka waktu kecil setelah menulis dan membaca. Rasanya saya bisa menuangkan apa-apa yang melintas di pikiran, melalui warna-warni pilihan, dan mencipta suatu karya yang saya tempel di dinding-dinding kamar dan ruang keluarga. Saya yang menempelkannya atau Ibu kalau posisinya terlalu tinggi. 

Pemandangan pertama saat masuk ke rumah pasti disambut dengan gambar-gambar buatan saya. Kebanyakan di kertas HVS A4, sisanya robekan dari buku gambar A3. Satu dinding penuh, dari sudut kanan sampai kiri, tak ada celah satu pun. Begitu juga di dalam kamar. Saya rasa, Ibu yang pertama kali memberikan ide untuk menempelkan hasil karya saya di dinding rumah. Tentu saja, saya semangat menyambutnya, ajang pamer di kandang sendiri.

Bukan hanya menggunakan krayon atau pensil warna, tetapi juga cat air. Tempat favorit saya untuk menggambar adalah di lantai depan meja makan, menghadap taman kecil penuh bebatuan alam yang berada di dalam rumah. Kalau menggambar menggunakan cat air, biasanya saya akan menjemur terlebih dahulu hasilnya di bawah sinar matahari. Padahal akan menimbulkan gelombang di kertasnya, tetapi saya suka.

Saya suka menggambar laut dan makhluk hidup di dalamnya, menggambarkan kembali tokoh kartun favorit, atau sesederhana alam hijau membentang. Ada kalanya saya senang menggambar semacam monster, makhluk dengan wajah kotak, bermata satu atau tiga, atau bentuk yang tak lazim lainnya, tetapi dengan warna ceria sehingga menjadi monster yang lucu dan menyenangkan.

Oh, saya juga suka menggambar orang, tetapi yang satu ini meninggalkan sedikit bekas di hati. Ibu selalu bilang kalau orang buatan saya itu layaknya gambar anak kecil, walau waktu itu saya cuma bertanya-tanya dalam hati, "Bukankah memang aku anak kecil?" pada saat itu. Seingat saya, akibat dari hal itu saya jarang berani menempelkan gambar orang. Saya lebih memilih menyimpannya di dalam buku gambar saja atau coret-coretan di binder.

Namun, saya sama sekali enggak menyalahkan Ibu saya karena kalau saya memilih untuk percaya diri, pasti saya akan terus menggambar orang dengan gaya yang saya sukai. Pernahkah kau juga merasa demikian? Memperlambat atau memberhentikan hal-hal yang disuka karena kehilangan rasa percaya atas diri sendiri? Saya sering mengalami ini, meski nantinya bangkit lagi, tetapi selalu ada waktu di mana saya butuh bantuan dan tak bisa berdiri sendiri.

Tahun ini, tepatnya pertengahan bulan Mei lalu, saya mulai menggambar lagi, juga mewarnai. Saya mulai sedikit demi sedikit dengan mengilustrasikan tulisan di buku harian, seperti apa yang saya makan, apa yang banyak terlintas di pikiran, atau apa saja. Saya juga membeli buku mewarnai dengan tema "My Little Pony", sesederhana saya suka karakternya, terutama Twilight Sparkle, dan saya menonton serial tersebut.

Krayon saya sepertinya sudah dihibahkan ke yang membutuhkan bertahun-tahun lalu, akhirnya saya pun menggunakan pensil warna yang entah ke berapa, saya selalu rutin membeli baru bila pensilnya sudah pendek. Pastinya sudah lama pula, mungkin saat SD atau SMP, tapi masih ada sampai sekarang. Saya temukan di selipan dalam container barang-barang masa kecil.

Playing with colors is very therapeutic. It is indeed one of the ways for me to heal.

Sebenarnya saya melakukan ini sebagai hasil dari konsultasi saya dengan seorang psikolog. Awalnya hanya dianjurkan untuk kembali melanjutkan menulis buku harian. Saya terbiasa menulis itu, tapi berhenti beberapa waktu lalu karena saya kesulitan untuk mengekspresikan perasaan saya melalui tulisan, bahkan yang hanya dibaca oleh diri sendiri. Saat terapi, ternyata bermain kembali dengan pensil warna itu menyenangkan sehingga saya pun menggunakan pensil warna untuk menggambar di buku harian.

Apakah kamu juga suka melukis jalan hidupmu dan memberikannya warna?