Tuesday, May 4, 2021

What's Your Love Language?

Mine is food.

Big time. Period.

So, when I send you food, even my home-cooked meals or homemade baked goods, that means I'm grateful for having you in my life. I wanna share happiness through food, I wanna ignite your senses through food, and I wanna mail the five love languages through food. Basically, I love you. And girl, oh boy, when you ask me to eat with you or send me your favorite food, I can't thank you enough.

Since the pandemic is still happening, duh, we can't share meals together at a table like we used to and that's kinda depressing. I might be an introvert, but hell yeah, I miss having brunch dates with my besties in a cute cafe, vintage restaurant, or a drive-thru. I want them to come over to my house so that Ebo and I can cook them meals and have a talk.

Food is like a gate to someone's life in a very romantic way.

So, what's your love language?

Monday, April 26, 2021

Ngobrol

Apa yang membuatmu bertahan sampai hari ini?

Kalau aku sih, dipikir-pikir, hebat juga masih ada di sini sekarang, bernapas di atas kasur yang, walau sudah reyot, nyaman. Kadang suka luput dalam daftar hal-hal yang membuatku bahagia, sejuknya AC, sepatu jelly, daster bolong-bolong nan adem, itulah yang bikin aku bisa melewati mimpi buruk di tahun 2020. Mungkin kalau mereka gak ada, ya, aku bakal misuh-misuh terus.

Mulai dari pandemi (Oh, whatever Coronavirus!), Ayah yang sudah pulang, sampai setahun perjalanan ditemani dr. Leo yang ternyata baru permulaan. Tahun 2020 gak main-main, selalu ada-ada saja. Namun, benar bahwa semua hal itu netral, tinggal bagaimana kita menjalani dan mengamati secara berkesadaran. Apa-apa yang terjadi merupakan spektrum, entah condong ke mana, kita (sebenarnya) peka.

Duh, dan sebulan terakhir, otakku sering kali membohongi diriku sendiri, bahkan berhalusinasi. Susah banget buat bangun dari tidur dan mandi pagi, merasa gak perform saat kerja, emotional eating, dan kayak gak punya siapa-siapa. Ya, memang sih ini perjuanganku sendiri, tapi coba deh baca argumen ini, aku sih setuju, kesehatan mental = kesehatan fisik, melekat dan terkait, satu kesatuan, tak terpisahkan.

Hampir memasuki bulan kelima di tahun 2021, kadang aku merasa gini-gini saja, tapi kadang merasa aku banyak berubah. Aku juga sedang merasa gak butuh-butuh amat untuk punya social media pribadi, kalau memang lagi pengen sharing makanan yang aku suka, ngomongin tentang hal-hal yang bikin aku senang, atau ranting soal hidup, ya gapapa untuk aktif lagi, tapi gak setiap saat. Walaupun pekerjaanku masih di bidang social media sejak tahun 2017, tidak aktif di social media pribadi gak membuatku ketinggalan zaman dalam hal pekerjaan. Jadi, nothing to lose, lah.

Dah, gitu saja sih.


Salam perut salmon ginuk-ginuk di semangkuk Torched-nya Honu.

Sunday, January 3, 2021

You Belong

Have you ever feel like you don't belong here or anywhere else?

You take a step then go back a thousand.

Everything becomes your hassle and there's someone shouting, "You don't belong here." while no one's here. Whistling, whistling, in the woods of numbers, rewards, and metrics of life. What will you do when you encounter the situation?

Will you fight back or will you keep pace with the flow?

Di titik nol dan puncak gunung itu
Ia berlari, tetapi ke sana, ke mari
Mengejar burung merpati, mendobrak
Keputusasaan yang abadi

Hutan bersorak, meriah, lantas berbisik
"Menyenangkan, ya?
:menyelami penderitaan
Berlomba menjadi pemahat, lama-lama

Di titik nol kedua dan kawah itu
Ia berhenti, tetapi matanya menari lagi
Mengamati Tuhan, berlagak congkak
Ketidakpastian yang hantui

Hutan terseok-seok, merintih, lantas berteriak
"Menyedihkan, ya?"
:mengetahui kebahagiaan
Berlomba menjadi paling tahu, sama-sama

Di titik ini, tidak di sini,
dan mati.

When you feel like you have everything, believe me, you have nothing, but yourself.