Saturday, October 12, 2019

Ada Apa #18 | Apa Kabar?

Apa kabar?

Adalah pertanyaan yang selalu aku nantikan. Ini bukan tentang aku baik-baik saja, hariku selalu menyenangkan, atau balasan bagaimana denganmu. Namun, lebih dari itu.


Apa kabar?


Menurutku, dari satu pertanyaan saja, bisa menjadi pintu untuk rangkaian kisah yang menunggu untuk ditutur, rindu yang ditahan sejak entah kapan, atau sesederhana memang ingin bercengkerama walau sebentar.


Apa kabar?


Adakah yang sedang kau tunggu? Atau terlalu banyak hal yang terpendam? Erat dalam pikiran, tetapi sulit untuk diungkapkan? Mungkin banyak sungkan sehingga jujur dan mengaku menjelma susah.


Apa kabar?


Siapa tak suka diingat? Ini bukan cuma perasaan. Ingatan adalah anugerah yang indah. Dengan mengingat, kita tahu bahwa kita pernah melewati sesuatu, berproses, dan menjadi yang sekarang.


Apa kabar?

Pertanyaan memang tidak selalu berbuah jawaban. Ada yang sibuk mengalir, ada pula yang melawan arus, atau memilih untuk diam, kemudian lenyap. Yang kutahu pasti, kita tidak sendirian, tidak pernah sendirian.


Apa kabar?

Sunday, September 1, 2019

Life's a Water with Colors

Have I told you that I used to paint with watercolor when I was a kid?

The lovely Farhah

Thank God for Farhah, a very lovely companion of mine from college, we met on August 31st for a watercolor session. She's always been sweet, the type of friend who will give you endless support, no matter if there'll be a tornado hitting you, she'll be there beside you. We started with lunch at my favorite restaurant, Bumbu Pekalongan (their Megono Pincuk and Cumi Item are to die for!), then we headed to the newly opened Starbucks near our campus.

Candid by Farhah

I got frantic at first! I even forgot how to use a paintbrush properly, oh, I actually broke mine (oops). Well, again, Farhah saved me with her paintbrush set. We looked for inspirations on the internet because our surroundings were not supported much (still got a lot of mess everywhere, really a brand new building). Farhah committed to paint a landscape with lake, while I wanted to paint a floral pattern (like always).

But first, selfie!

I felt so good to play with colors, choosing the right one to match with each other, creating shapes, contemplating what we paint, it was therapeutic. Oh, pro tip, wet on wet is an ideal way to paint for a sloppy person like me! I love how easy it is, but it will turn out beautiful! I feel like a pro already when I do it, I'm sure you'll too.

Me and my artwork

Farhah have reminded me to always use watercolor paper to paint with watercolor (like, duh?), but in case you don't know it, right? Unless you want the result to be crumbly, then go on, just use regular paper. There are lots of tutorials on the internet (Thanks to YouTube!) for a watercolor beginner, it will help you a lot when you wanna start to paint. Just like what Ditut and Pinot always said, it's not about the tools and everything fancy, but the willingness to learn, that's what.

Flowers here and there

So, have you painted your life?

Monday, August 5, 2019

Runutan

Aku tak mengerti, apakah semua orang perlahan sadar bersama-sama, atau memang lingkaranku saja?

Ember penuh cucian yang belum tersentuh itu menimbulkan bau apak, kira-kira sudah empat hari dibiarkan begitu saja. Si empunya saat ini sedang duduk di lantai putih dengan corak hitam yang ternyata adalah debu yang menumpuk. Ia bersandar pada tembok polos, tapi pahit, sebagai saksi apa-apa yang terjadi dalam bangunan yang ia tinggali, bukan rumah.

Melirik ke sebelah kanan, di sanalah cucian itu berada. Berjalan sedikit melewati pintu di sebelah kiri, ada ruang tengah berisikan meja makan dengan dua kursi, juga televisi tua yang sudah tak berfungsi. Berbeda dengan keadaan di belakang, di dalam justru bersih, hanya segelintir debu. Setiap ruangan; mulai dari kamar tidur, kamar mandi, sampai gudang, semua terisi perabot secukupnya dan rapi. Oh, tapi masih saja terasa kosong.

"Nang ning nung, ning nung ning nang ning nung.."

Nyanyikanlah jiwamu sekeras-kerasnya, senantiasa tak akan ada yang bisa mendengar, kecuali dirimu sendiri, sebaik-baiknya penolong.

Pikirannya mengembara ke entah berantah, mungkin kolam renang berubin biru yang memanggilnya 21 tahun lalu, atau ruang tamu yang memercik penyesalan setahun setelah kelahirannya. Ia beranjak dari duduknya, menghampiri cucian dalam ember yang berwarna hijau pudar itu, dan memencet hidungnya seraya bernapas melalui mulut.

Ada dua kutang dan tujuh celana dalam, selama empat hari ia tidak berganti baju, hanya pakaian dalamnya saja. Ia baru sadar kalau masih mengenakan daster batik kuning yang sudah bolong di bagian paha kanan sejak hari Kamis lalu. Dibukalah daster itu pelan-pelan dari tubuhnya dan memasukkannya ke dalam ember yang sama.

"Asin, asin, aku maunya wangi!"

Berapa pun sabun pencuci pakaian yang ia tuang ke dalam ember, tiada wangi yang tercium meski dalam jarak satu senti. Ia tuang terus sampai hampir habis, pula bulir-bulir air yang berasal dari mata sayunya turun deras menghujani siapa pun, apa pun, yang berada di bawahnya, termasuk cucian yang apak itu.

Tiga semut yang berjalan beriring menuju markasnya lari terbirit-birit, tak mau tertular, cadangan air mata semur-semut itu sudah habis. Kemarin, mereka baru kehilangan serpihan roti yang sudah dijaga betul-betul. Ah, yang tiba-tiba, kadang menyenangkan, kadang menyesakkan.

Dari sekian banyak cerita di hidupmu, benarkah tidak ada yang benar-benar selesai?